Ouh .. “Boss-nya yang punya showroom orang mana sih?”
“Keturunan Arab” Jawabnya. Bokeb Teruskan”. Muka kami berdekatan. Tubuh Ida bergetar semacam menangis. “Emangnya kenapa?”
“Eehhngng..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati. Ida hanya tersenyum saja. Kupacu kuda betinaku mendaki lereng kenikmatan. Aku terkejut,
“Jam berapa sekarang?” tanyaku. Tidak lama Ida keluar. Entah berapa lama aku tertidur hingga aku merasakan ada tubuh yang mendesakku dengan lembut. Ia kembali dengan membawa nampan berisi segelas air putih. “Sebetulnya saya mau nonton di Ramayana Theatre, tapi telah telat lagipula filmya nggak keren”, sambungnya lagi. Kurasakan ia terus terangsang. “Sekarang bagaimana?” tanyaku. Ia terus membuka baju dan celana pendeknya.




















