Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Masih ada esok. Film Porno Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Si Junior melemah. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Atau mau gunting? Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus.




















